Arsip

Merekam Jejak

Saya sedang membayangkan, andaikata semua pembicaraan, obrolan santai maupun serius di warung-warung, di tempat-tempat nongkrong lainnya, ditulis dan didokumentasikan.

Terserah sebesar dan seserius apa obrolan itu, yang penting ditulis.

Entah itu di buku harian, di buku pribadi, di tempat-tempat lain, atau di blog bagi yang punya blog, pasti semua jadi lebih terdokumentasikan dengan sangat rapi.

Andaikan, obrolan tentang buku baru yang sedang dibaca, kemudian pendapat tentang pengarang, alur cerita, anjuran dan lain sebagainya yang kita bicarakan di warung-warung itu, kita tulis. Mestilah semua itu jadi sedikit lebih berguna kalau kita meninggalkan sedikit jejak, entah di mana pun itu.

Cerita tentang apa pun, bisa jadi berguna bagi siapa pun kalau dicoba tulis. Mengutip satu petikan kalimat dari seorang sahabat blogger bahwsanya Tuhan memberi satu ruang bernama lupa, maka hati menuntut pena untuk bercerita.

Kalau hari ini, kita dengan segala kesibukan kita, beraktivitas, kemudian pada malam harinya atau pada waktu senggang kita mulai sedikit menulis, merekam kembali jejak pikiran kita selama seharian penuh, saya yakin, nanti suatu hari, pada saat kita kembali dan membaca apa yang kita tulis, kita akan mendapati diri kita terlihat terlalu layak untuk ditertawakan.

Bahkan bisa jadi muncul beberapa pikiran, hei bagaimana mungkin saya bisa menulis hal seperti ini?

Tapi itu perkaran lain, saya jadi teringat salah seorang blogger (tidak perlulah saya menyebutkan siapa orangnya :d) dulu pernah bilang, kalau-kalau, tidak menutup kemungkinan kalau  tulisan-tulisan kita nantinya akan dibaca oleh anak atau cucu kita, dan atau mungkin, suatu massa nanti, kita bisa duduk manis bercerita pada anak cucu kita, kalau dulu kakek atau nenek pernah duduk di warung fulan, bercerita panjang lebar tentang syariat, tentang buku-buku baru, tentang film yang kebanyakan hanya mengejar jam tayang, tapi kosong penghayatan.

Atau bagi yang punya blog, tulisan-tulisan kita di sini, bisa dijadikan bahan untuk bercerita pada cucu kelak, kalau kakek punya dulu suka menulis di blog.

Blog kakek dulu banyak berbicara tentang opini, pengalaman, dan kadang hal-hal konyol juga :d Kakek juga sering manautkan lagu dan lirik di blog kakek, karena juga suka beberapa lagu.

Too many stories, too little time, too many wishes, too little power…!

Ingin dan Butuh Itu Beda

Sudah bukan barang baru, dan bukan pengetahuan baru juga, karena semua orang juga tahu, kalau apa yang kita inginkan, pada kebanyakan hal, tidak benar-benar kita butuhkan, keinginan ternyata tidak sama dengan kebutuhan.

Dan saya ketemu satu kutipan lirik bagusnya Cold Play, dua penggal lirik itu cocok dengan tema yang sedang saya bahas;

When you try your best but you don’t succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can’t sleep
Stuck in reverse.

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Mari kita berpikir ulang tentang apa yang benar-benar kita butuhkan. Keinginan bisa ditunda atau bahkan dihilangkan, karena ingin kadang hanya sekedar datang menggoda, tapi kebutuhan tidak bisa ditunda-tunda, menunda kebutuhan bisa menjadi berbahaya, karena kebutuhan tidak datang untuk menggoda, tapi dia hadir sebagai sebuah keharusan.

Ketidakpastian

Tidak ada yang pasti, satu hal yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.

Satu waktu sebelum melakukan kesibukan, satu orang merencanakan hal yang akan dilakukan hari ini, dari semalam sebelum munculnya hari, yang bersangkutan sudah membuat rencana selangkap-lengkapnya. Dengan semangat yang selalu diperbaharui akhirnya dia mulai hari dengan keyakinan dan harapan-harapan baru.

Seiring berjalan waktu, satu persatu agenda yang telah direncanakan muncul, namun dari semua rencana yang sudah tertata rapi, ternyata pada kenyataannya berbeda dengan apa yang sudah direncanakan.

Banyak hal-hal yang tidak direncanakan terjadi, pertemuan dengan orang yang tidak direncanakan misalnya, menghadapi masalah yang sama sekali belum kita persiapkan dengan matang misalnya, atau kejadian-kejadian yang di luar dugaan kita.

Lalu saya berpikir, apakah memang ketidakpastian ini bisa dihilangkan atau minimal bisa dikurangi

Besar dugaan saya kalau ketidakpastian sama sekali tidak bisa ditiadakan. Ungkapan seperti tidak ada yang pasti, yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri  cukup memberi kejelasan bahwa tak ada yang pasti. Namun, ada beberapa hal yang saya percaya bisa mengurangi ketidakpastian seperti mengumpulkan sebanyak mungkin informasi.

Informasi membunuh rasa takut

Sebenarnya, dalam pandangan saya, yang membuat seseorang merasa takut adalah kurangnya informasi, atau kalau boleh dibilang, ketakutan itu datang karena kebodohan (ketiadaan informasi), semakin banyak informasi yang kita dapat, semakin banyak masukan yang dimiliki, semakin banyak alternatif dalam menyelesaikan satu masalah dan semakin siap dalam menghadapi rasa takut yang kadang hanya dijadikan alasan.

Begitu juga dalam menghadapi ketidakpastian, menurut saya ketidakpastian bisa dikurangi dengan menghimpun sebanyak mungkin informasi yang berkaitan dengan masalah dan agenda yang sudah dirancang. Semakin detail informasi yang diperoleh maka akan semakin kecil peluang ketidakpastian yang akan kita hadapi.

Melihat ramalan cuaca misalnya, jika hendak berpergian, menyiapkan apa saya yang diperlukan kalau-kalau di jalan nanti cuaca berubah sperti perkiraan. Atau bagi yang akan menjumpai seseorang misalnya bisa mengumpulkan informasi tentang apa kira-kira kegiatan orang yang hendak kita temui hari ini, jam berapa mereka sedang tidak sibuk, atau di mana mereka berada, dan terkahir barangkali adalah membuat janji.

Jadi sebagai kesimpulan, dulu pernah belajar pemograman, yang menarik dari sini adalah logika if (jika), terpikir bahwa, apabila semakin banyak “jika” dalam satu program maka semakin cerdaslah dia dalam menyelesaikan masalah yang diberikan, sehingga menghasilkan output dan program yang tepat. Maka menurut saya ada baiknya kalau kita mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang kita perlukan, sedetail mungkin dan jika perlu buat rencana-rencana lain juga untuk jaga-jaga.