Aceh

Perhatikanlah….!

Ada kalanya, kita harus mulai berfikir untuk orang lain, menolong orang lain, dan keluar dari zona nyaman kemapanan.

Ada kalanya, kita harus melihat keluar, periksa sekeliling, lihat tetangga, siapa tahu mereka belum makan, mungkin mereka sedang dalam masalah, mereka lapar dan dalam ketiadaan, namun malu meminta.

Siapa tahu, dalam gelak tawa yang besar dalam keramain, ada kesepian yang mendera tatkala sendiri.

Hiruk pikuk lini masa, berita dan televisi, hanya sebagai ilusi untuk melupakan masalah yang ada.

Tengoklah sekitar, lihatlah sekeliling, bantu, beri meraka makan, mudahkan urusan mereka, agar Allah mudahkan urusanmu kelak di hari akhir.

Aceh, 22 Juni 2020.

Tentang Jabatan dan Prioritas

Kadang dalam hidup kita harus sering melihat apa yang terjadi di sekitar kita, entah itu dalam pekerjaan, lingkungan dan juga masyarakat.

Banyak hal yang bisa dipelajari, diambil ibrah dan juga pengalaman tanpa harus merasakan hal yang sama.

Contohnya tentang jabatan dan pangkat. Saat seseorang mempunyai jabatan yang tinggi dan terhormat, akan banyak orang yang mendekat dan menjadi teman, ada yang tulus ada pula yang tidak, tidak ada yang benar-benar tahu.

Dan itu bisa dijadikan pelajaran. Jabatan akan membuat orang-orang mendekat, tapi ingat, keluarga nomor satu, karena pada saat jabatan hilang dan pergi, begitu pula dengan orang-orang yang pernah dekat dulu, kecuali beberapa saja yang benar-benar tulus.

Keluarga akan selalu ada di dekatmu, dalam suka dan duka, sedih dan senang, mereka akan selalu ada, maka jangan lupakan dan abaikan mereka pada saat sedang ada jabatan dan menjadi orang penting, keluarga nomor satu, hal paling penting yang harus menjadi prioritas, dan di atas keluar, masih ada satu prioritas yang tidak kalah pentingnya, yaitu Allah.

Walaupun seribu janji kau ingkari, Allah tidak akan bosan untuk menunggumu untuk kembali mengetuk pintu-Nya. Mendekatlah selalu upada Allah.

Aceh, 05 Februari 2020.

Belajar dari padamnya arus listrik

Beberapa waktu lalu aliran listrik padam, tak ada kabar dan berita apa penyebab padamnya listrik, memang akhir-akhir ini aliran listrik sering padam, kadang bisa padam sampai lima jam. Kejadian ini ada hikmahnya juga. Berhenti. Berhenti dari kesibukan yang seolah tak ada habisnya, lalu duduk merenung melihat apa yang selama ini luput dari pikiran. Ternyata ada dua hal yang selama ini kita alami. 1. Kurang bersyukur, 2. Alternatif lain selain PLN.

Kurang bersyukur

Ini baru saya sadari pada saat listrik padam, saya mulai mengeluh dan menggurutu karena ketiadaan listrik yang menyebabkan saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan. Selama ini, arus listrik menyala berjam-jam, berhari-hari tapi sangat jarang saya syukuri keberadaanya. Saat tiba-tiba listrik padam, seolah seperti ada sesuatu yang selama ini kita nikmati namun tanpa kita syukuri yang hilang seketika. Memang kadang sesuatu itu menjadi penting dan berharga pada saat sudah tiada. Semoga listrik padam ini ada hikmahnya.

Alternatif penyedia listrik negara (PLN)

Setahu saya, selama ini PLN adalah satu-satunya perusahaan milik negara yang menyediakan suplai listrik ke seluruh pelosok negeri, walaupun kadang kinerja perusahaan milik negara ini kadang-kadang sering membuat pelanggan kecewa dengan ketidak jelasan padam-hidupnya arus listrik dan berbagai masalah lainnya. Ada anggapan bahwa selama ini perusahaan ini melakukan monopoli suplai listrik, tidak ada saingan sehingga membuat mereka menjadi semakin menjadi gantungan dan harapan masyarakat untuk ketersedian pasokan listrik.

Sekiranya ada alternatif lain (yang memang sebenarnya banyak alternatifnya namun mungkin terkendala regulasi), mungkin kinerja perusahaan listrik negara ini bisa lebih bersaing dan berinovasi jika tidak mau kalah bersaing. Iya. Kadang saingan itu penting dan perlu sebagai sparing-partner dan sebagai pengawal ide-ide inovatif.

Begitulah, dua hal ini muncul setelah pemadaman arus listrik yang semakin tidak jelas kapan berakhir dan kapan akan padam lagi. Masalah kadang membawa berkah solusi dan menjadi sebab untuk berhenti sejenak untuk duduk diam dan merenung.