QOTD

Tentang Jabatan dan Prioritas

Kadang dalam hidup kita harus sering melihat apa yang terjadi di sekitar kita, entah itu dalam pekerjaan, lingkungan dan juga masyarakat.

Banyak hal yang bisa dipelajari, diambil ibrah dan juga pengalaman tanpa harus merasakan hal yang sama.

Contohnya tentang jabatan dan pangkat. Saat seseorang mempunyai jabatan yang tinggi dan terhormat, akan banyak orang yang mendekat dan menjadi teman, ada yang tulus ada pula yang tidak, tidak ada yang benar-benar tahu.

Dan itu bisa dijadikan pelajaran. Jabatan akan membuat orang-orang mendekat, tapi ingat, keluarga nomor satu, karena pada saat jabatan hilang dan pergi, begitu pula dengan orang-orang yang pernah dekat dulu, kecuali beberapa saja yang benar-benar tulus.

Keluarga akan selalu ada di dekatmu, dalam suka dan duka, sedih dan senang, mereka akan selalu ada, maka jangan lupakan dan abaikan mereka pada saat sedang ada jabatan dan menjadi orang penting, keluarga nomor satu, hal paling penting yang harus menjadi prioritas, dan di atas keluar, masih ada satu prioritas yang tidak kalah pentingnya, yaitu Allah.

Walaupun seribu janji kau ingkari, Allah tidak akan bosan untuk menunggumu untuk kembali mengetuk pintu-Nya. Mendekatlah selalu upada Allah.

Aceh, 05 Februari 2020.

Tentang Kerja Keras dan Konsisten

Dulu saya sering mendengar kalau pintar saja tidak cukup, karena semua orang pintar yang malas akan dikalahkan oleh orang biasa yang rajin dan pekerja keras.

Jadi begini, saya baru saja membaca sebuah jawaban di Quora tentang pemula yang menghasilkan banyak dollar dari menulis dibandingkan dengan orang lain yang lebih dulu menulis.

Ternyata, rahasia penulis pemula tersebut adalah konsisten menulis dan bekarya;

…terus berkarya meski terlihat tidak menghasilkan.

Kalimat di atas terus saja bergema di pikiran saya, bagaimana awal mulanya adalah berkarya walaupun tidak terlihat menghasilkan, namun semua kerja keras itu terbayar pada saat nya.

Kerja keras dan konsisten akan selalu menjadi bekal bagi siapa saja yang merasa tidak pintar, karena pintar saja tidak cukup, kerja keras dan konsistenlah yang akan menjadi teman.

Tidak Konsisten

Kosisten menulis setiap hari itu tidak gampang. Banyak godaan dan besar rasa malasnya. Tulisan saya terakhir di blog ini sudah lebih satu minggu yang lalu, padahal saya berencana untuk menulis setiap hari, walaupun saya tidak mengatakan akan menulis setiap hari dan yang saya tulis pun hal-hal sepele.

Konsisten itu berat, apalagi kalau sudah berhenti dan memulai lagi dari awal. Cobaan paling berat itu sebenarnya dari diri sendiri. Rasa malas.

Tapi apapun itu, menulis harus dilanjutkan, bukan apa-apa, hanya ini meninggalkan setapak jejak digital yang nantinya mungkin bisa berguna bagi yang lain.

Sebenarnya ada rasa takut mati dilupakan dan tidak menjadi bermanfaat, kalau sudah begini, kadang suka teringat perkataan Gie dalam filmnya itu;

Lebih baik mati terlupakan dari pada menyerah pada kemunafikan.

 

Aceh, 27 Desember 2019