Opini

Tentang Jabatan dan Prioritas

Kadang dalam hidup kita harus sering melihat apa yang terjadi di sekitar kita, entah itu dalam pekerjaan, lingkungan dan juga masyarakat.

Banyak hal yang bisa dipelajari, diambil ibrah dan juga pengalaman tanpa harus merasakan hal yang sama.

Contohnya tentang jabatan dan pangkat. Saat seseorang mempunyai jabatan yang tinggi dan terhormat, akan banyak orang yang mendekat dan menjadi teman, ada yang tulus ada pula yang tidak, tidak ada yang benar-benar tahu.

Dan itu bisa dijadikan pelajaran. Jabatan akan membuat orang-orang mendekat, tapi ingat, keluarga nomor satu, karena pada saat jabatan hilang dan pergi, begitu pula dengan orang-orang yang pernah dekat dulu, kecuali beberapa saja yang benar-benar tulus.

Keluarga akan selalu ada di dekatmu, dalam suka dan duka, sedih dan senang, mereka akan selalu ada, maka jangan lupakan dan abaikan mereka pada saat sedang ada jabatan dan menjadi orang penting, keluarga nomor satu, hal paling penting yang harus menjadi prioritas, dan di atas keluar, masih ada satu prioritas yang tidak kalah pentingnya, yaitu Allah.

Walaupun seribu janji kau ingkari, Allah tidak akan bosan untuk menunggumu untuk kembali mengetuk pintu-Nya. Mendekatlah selalu upada Allah.

Aceh, 05 Februari 2020.

Curhat Colongan

Entah mengapa, saya selalu merasa marah dan geram kalau sekiranya ayat-ayat Allah digunakan tidak pada tempatnya, selemah-lemahnya iman adalah mendoakan.

Silahkan jualan produk atau apalah, namun ketikan menggunakan agama dan ayat-ayat Al-quran sebagai pemanis dalam marketing, menurut saya itu sama sekali tidak benar dan terkesan melecehkan.

Perasaan ini muncul karena kejadian di tempat saya menulis sekarang. Tempat saya biasa minum kopi sambil mengerjakan tugas-tugas kantor.

Jualan sah-sah saja, tapi ketika firma Allah digunakan sebagai pemanis, itu sudah tidak pantas dan keren lagi.

Aceh, 15 Januari 2020.

Tentang Nepotisme

Hari ini saya belajar satu hal tentang Nepotisme setelah membaca tulisan Pak Dahlan Iskan di disway.id tentang N dalam KK.

Menarik bagaimana N (Nepotisme) bagi beliau tidak salah, berbeda dengan dua K sebelumnya N, yaitu Korupsi dan Kolusi. Awalnya saya sedikit terkejut, namun setelah membaca sampai selesai, akhirnya saya paham mengapa nepotisme bukan sebuah kejahatan.

Pelajaran penting pertama; jangan terlalu dini mengambil kesimpulan. Baca dulu, selesaikan, timbang-timbang, kalau perlu tabayyun.

Pelajaran penting kedua adalah tentang tidak mempermasalahkan nepotisme di sebuah perusahaan.

“Apalagi di swasta: nepotisme tidak boleh dipersoalkan. Itu suka-suka pemilik perusahaan.”

Iya, saya mengerti, toh itu perusahaan pribadi, terserah mereka mau membangun dinasti dagang ya terserah mereka, karena itu milik mereka. Akan berbeda ceritanya kalau perusahaan tersebut adalah perusahaan pemerintah, nepotisme yang tidak didasari pada kemampuan dan merit system justru akan menjadi bumerang dan kehancuran.

Terima kasih informasi dan pencerahan tentang kata nepotisme dan bagaimana seharusnya melihat posisi nepotisme dalam dunia kerja.