Muhasabah

Nostalgia

Layaknya sebuah buku yang terisi banyak cerita, begitu juga manusia. Ada banyak cerita dalam diri seorang manusia.

Ada cerita seru, ada pula cerita sedih. Semua cerita itu saling melengkapi satu sama lain, yang pada akhirnya membentuk sebuah sifat dan karakter seseorang.

Bagi mereka yang sudah beranjak tua, waktu lebih sering dihabiskan untuk mengingat masa lalu dan bernostalgia, kadang waktu juga dihabiskan untuk merenung dan mencoba untuk memaafkan diri sendiri atas semua salah dalam melangkah.

Kalau yang muda bersemangat bercerita tentang masa depan dan target-target, maka yang tua mulai mengutip kepingan-kepingan masa lalu yang berserakan untuk dipilih dan dipilah. Ada salah arah, banyak pula salah langkah.

Tapi satu hal yang pasti, tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain, dan kamu bisa memilih untuk menjadi jalan bagi kebahagian orang lain, menjadi bermanfaat.

Aceh, 18 Desember 2019.

Peran Orang Lain

Ada banyak peran dan andil orang lain dalam pencapaian hidupmu hari ini. Ada banyak doa dari orang-orang yang mendoakanmu dalam diam, menyemangatimu dalam kata.

Kamu hari ini adalah kumpulan kerja dan pengaruh dari orang-orang yang ada di sekitarmu, entah itu orang tuamu, gurumu, kawan-kawanmu, keluargamu, istrimu, anak-anakmu, semuanya punya peran dalam menjadikan dirimu.

Fakta ini menjadi bukti kalau kamu tidak perlu angkuh dan sombong dengan semua pencapaianmu hari ini. Biasa saja, syukuri dan berbagilah, karena dalam setiap peluh dan hasil usahamu, ada hak orang lain yang wajib kamu tunaikan.

Aceh, 16 Desember 2019.

Menjadi Bermanfaat

Dulu sekali sewaktu masih kecil dan belajar mengaji di pondokan, kami semua diajari tentang menjadi sebaik-baik manusia. Tentang bagaimana menjadi sebaik-baik manusia dalam kehidupan ini. Konon katanya dulu, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain.

Hidup kita ini akan berarti dan bermanfaat apabila menjadi sarana untuk membantu orang lain, menjadi bermanfaat bagi orang lain. Itu dulu sekali sewaktu masih kecil-kecil belajar dan mengaji.

Seiring bertambahnya usia, bertambah pula hal yang dilewati, bertambah pula rutinitas yang dianggap perlu, hal yang memang harus dilakukan untuk bisa bertahan hidup dan untuk tetap terjaga marwah dan harga diri tentang perihal kerja untuk diri sendiri.

Bekerja dulu berbeda dengan bekerja sekarang. Dulu sekali kerja adalah permainan yang dinikmati setiap detiknya, petuah Tengku tentang menjadi baik dan bermanfaat bagi orang lain adalah satu target yang harus dilakukan dengan kesenangan. Sekarang, kerja adalah perihal memenuhi kebutuhan pokok, apakah itu pangan, sandang dan papan, atau juga kebutuhan akan penilaian dari orang lain kalau kita ini hebat. Iya betul, penilaian.

Imbasnya adalah bekerja untuk diri sendiri, menjadi egois dan mementingkan diri sendiri akhirnya. Hidup tidak lebih dari sekedar bekerja menghasilkan uang, menikah berpasangan lalu beranak dan berketurunan. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan bekerja, menikah dan mempunyai keturunan, tapi menjadi salah kalau itu semua hanya sebatas untuk diri sendiri. Hidup yang hanya mementingkan diri sendiri adalah hidup yang tak layak dirayakan.

Kembali mengingat petuah zaman kecil dulu tentang sebaik-sebaik hidup. Hidup yang baik itu adalah kalau kita menjadi bagian dari solusi serta bermanfaat bagi orang lain, bukannya menjadi masalah dan beban bagi orang lain. Hidup yang seperti inilah yang harus dirayakan dengan megah. Berbagi, menjadi bermanfaat, tidak mengukur semuanya dari materi.