Muhasabah

Menjadi Bermanfaat

Dulu sekali sewaktu masih kecil dan belajar mengaji di pondokan, kami semua diajari tentang menjadi sebaik-baik manusia. Tentang bagaimana menjadi sebaik-baik manusia dalam kehidupan ini. Konon katanya dulu, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain.

Hidup kita ini akan berarti dan bermanfaat apabila menjadi sarana untuk membantu orang lain, menjadi bermanfaat bagi orang lain. Itu dulu sekali sewaktu masih kecil-kecil belajar dan mengaji.

Seiring bertambahnya usia, bertambah pula hal yang dilewati, bertambah pula rutinitas yang dianggap perlu, hal yang memang harus dilakukan untuk bisa bertahan hidup dan untuk tetap terjaga marwah dan harga diri tentang perihal kerja untuk diri sendiri.

Bekerja dulu berbeda dengan bekerja sekarang. Dulu sekali kerja adalah permainan yang dinikmati setiap detiknya, petuah Tengku tentang menjadi baik dan bermanfaat bagi orang lain adalah satu target yang harus dilakukan dengan kesenangan. Sekarang, kerja adalah perihal memenuhi kebutuhan pokok, apakah itu pangan, sandang dan papan, atau juga kebutuhan akan penilaian dari orang lain kalau kita ini hebat. Iya betul, penilaian.

Imbasnya adalah bekerja untuk diri sendiri, menjadi egois dan mementingkan diri sendiri akhirnya. Hidup tidak lebih dari sekedar bekerja menghasilkan uang, menikah berpasangan lalu beranak dan berketurunan. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan bekerja, menikah dan mempunyai keturunan, tapi menjadi salah kalau itu semua hanya sebatas untuk diri sendiri. Hidup yang hanya mementingkan diri sendiri adalah hidup yang tak layak dirayakan.

Kembali mengingat petuah zaman kecil dulu tentang sebaik-sebaik hidup. Hidup yang baik itu adalah kalau kita menjadi bagian dari solusi serta bermanfaat bagi orang lain, bukannya menjadi masalah dan beban bagi orang lain. Hidup yang seperti inilah yang harus dirayakan dengan megah. Berbagi, menjadi bermanfaat, tidak mengukur semuanya dari materi.

Advertisements

Rutinitas

Roda hidup yang terus berputar kadangkala membuat seseorang berhenti untuk merenung dan bertanya tentang segala hal. Hal-hal yang selama ini dilakukan seolah menjadi rutinitas yang harus dikerjakan, tanpa perlu untuk merenung dan berpikir sejenak.
Ikuti saja arus utama, maka semua akan baik-baik saja. Padahal semuanya kelihatan seperti topeng.

Normal itu adalah ketika kita melakukan apa yang orang lain lakukan dan apa yang orang lain katakan seharusnya memang begitu. Walaupun ada kalanya  dalam hati meresa tidak benar, manakala pikiran terus berontak bahwa itu tidak benar, namun status normal menjadikan pikiran mengalah, lalu memilih menjadi normal daripada dicap macam-macam.

Kawan. Ini hanya sedikit pikiran yang muncul setelah seharian bekerja melakukan rutinitas demi si cinta dan buah hati. Tidak lebih. Yakinlah bahwa saya bukan seorang idealis tulen yang memegang idealismenya mati-matian. Idealisme telah mati kawan, mati tergulung ombak kehidupan yang keras dan cadas.

Hari Baru

Tahun baru 2017 ini tidak ada resolusi selain menyelesaikan resolusi tahun sebelumnya yang belum tercapai yakni resolusi tahun sebelumnya lagi yang masih tinggal. Tahun baru sebenarnya adalah hari baru sama seperti hari hari sebelumnya, hari ini. Tahun baru adalah hari ini yang baru, sesudah hari kemarin berlalu pergi dan tak akan pernah kembali, lalu hari ini akan menjadi kemarin lalu esok hari akan kembali menjadi hari baru.

Saya tidak merayakan tahun baru. Tidak ada pesta kembang api atau menunggu detik pergantian tahun baru. Toh nanti malam juga detik pergantian waktu haru baru juga akan kembali muncul, setiap hari adalah hari baru dan setiap malam selalu ada detik pergantian hari baru.

Inti dari semuanya adalah bekerja lebih keras, lebih rajin menabung, lebih dewasa dan lebih segala-segalanya. Bigitulah kira-kira yang harus dilakukan, ah, ini juga termasuk resolusi sebenarnya. Mari belajar, kerja, berbagi, mengajar dan menyebarkan hal-hal positif di mana pun berada, dunia ini kejam dan keras sekali saudara-saudara. Dunia ini penuh dengan hal-hal yang bertentangan satu sama lain.

Semoga di awal hari yang baru ini, kerja dan kontribusi kita lebih nyata dan lebih banyak lagi, semoga kita menjadi bagian dari pada solusi bukan justru menjadi bagian dari masalah.