Aceh

Dunia yang Semakin Ribut

Kita hidup di dunia yang semakin hari semakin ribut dan bising. Ketenangan dan sunyi itu seolah dua hal yang tidak disukai, bising dan kegaduhan menjadi sesuatu yang digandrungi.

Dunia semakin ribut dan bising. Kita memang hidup dalam siklus kebisingan yang tiada pernah berhenti, bahkan menjelang tidur untuk beristirahat pun kebisingan menemani. Ketenangan dan kesunyian memang barang mahal dan langka.

Mungkin memang sifat dasar manusia yang ingin didengarkan daripada mendengarkan, tapi ngomong-ngomong, sebenarnya bukan ini yang ingin saya tulis, saya hanya ingin menulis tentang dunia di sekitar saya yang semakin hari semakin bising. Bekerja dalam kebisingan suara musik adalah biasa dan keniscayaan. Konon katanya penambah semangat. Pernah dulu saya ke suatu tempat yang sangat berbeda, lingkungan kerjanya sangat sunyi dan sepi sekali, karena memang tujuan mereka memang bekerja bukan mencari hiburan.

Dunia yang semakin ramai, ribut dan bising.

Advertisements

Belum Ada Judul

Ada hal penting yang saya pelajari selama hampir tiga tahun menetap di sini, setelah hampir 10 tahun merantau di luar daerah dalam rangka belajar dan menuntu ilmu.

Pertama yang saya lihat bahwa kampung dan kota itu jelas sangat berbeda. Dari segi kehidupan sudah berbebeda, dari segi penyebaran informasi juga berbeda. Kalau dulu di kota, mudah rasanya mendapat informasi seputar seminar atau workshop, baik itu yang berbayar ataupun yang gratis, mudah rasanya untuk memilih kemana tempat yang akan dituju, pilihan itu banyak, tinggal diri kita sendiri yang memilih dan menentukan. Mau belajar dan mencari ilmu atau hanya sekedar berhura-hura saja menghabiskan waktu yang sebenarnya adalah sedikit dan terbatas.

Tentang waktu itu sendiri saya teringat perkataan Asyahid Imam Hasan Al-Bana yang berkata bahwa waktu yang kita miliki lebih sedikit dari kewajiban yang kita miliki.

Kalau di sini, rada susah untuk mendapatkan hal-hal seperti di atas. Kajian-kajian ilmiah jarang diselenggarakan di sini, kalaupun ada cuma sebatas untuk kalangan tertentu saja, dan itu pun dengan alasan supaya dapat sertifikat lalu bisa untuk naik pangkata atau jabatan.

Kedua, saya sering bertanya apa sebenarnya ketertarikan masyarakat(usian produktif) di sini, apa saja yang menjadi fokus besar mereka, sering saya duduk di warung kopi melihat dan mencermati apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan, apa yang sebenarnya mereka inginkan dalam hidup ini, hal-hal yang sering sekali saya tanyakan pada diri sendiri pada saat saya merenung.

Saya melihat ada kecendurangan untuk saling membanggakan, entah itu cuma prasangka saya atau memang begitu adanya. Polanya sederhana, pergi merantau untuk kuliah(belajar), pulang dengan mengandalkan ijazah untuk mencari kerja, menikah, lalu menetap dan kalau memang berhasil menjadi pegawai negeri sipil, mereka akan berpenampilan rapi dan elegen. lalu apa? Seperti ada rasa kejenuhan dalam rutinitas keseharian akhir-akhir ini. Sepertinya tidak ada hal baru di sekitar sini, untungnya internet masih diakses.

Ah semoga ini hanya renungan dan pemikiran saya saja sambil menunggu mata mengantuk.

Tentang Bergabung di Komunitas

Baru baru ini seorang kawan mengajak untuk bergabung dengan komunitas sepeda, sebuah komunitas pengguna sepeda yang digunakan untuk bersepada bersama pada saat ada event-event bersepeda atau hanya sekedar kawan bersepeda pada saat tertentu sehingga bersepeda bisa lebih ramai dan mengasyikkan.

Saya tidak langsung menjawab, karena menurut saya, bersepeda sebenarnya bisa saja dilakukan sendiri tapi tetap lebih asyik dan menyenangkan kalau bersama-sama.

Masalahnya adalah kenapa harus bergabung di komunitas? Kadang saya suka melihat siapa saja yang bergabung di komunitas, selain melihat siapa yang bergabung, apa tujuan mereka sebenarnya bergabung dengan komunitas, komunitas di sini bisa komunitas apa saja. Saya melihat bahwa inti dari berkomunitas sebenarnya adalah relasi, ya relasi, bagaimana komunitas bisa menjadi tempat untuk menambah relasi, mengembangkan dan memperbanyak kenalan, yang ujung-ujungnya adalah keuntungan.

Tapi dalam komunitas, tidak semua orang bertujuan untuk membangun relasi, ada yang hanya sekedar mencari kesenangan karena ramai, ada yang memang suka eksis, ada yang hanya suka ketika ada event lalu dapat pergi ramai-ramai untuk ikut event, tapi tetap saja ada yang tujuannya adalah mencari keuntungan lewat relasi dan kenalan.

Sebelumnya saya juga pernah bergabung dalam komunitas Informasi Teknologi, saya melihat bahwa tujuan bergabung di sana di samping menambah ilmu juga sebenarnya menambah relasi agar supaya dikenal, tidak jauh berbeda, tapi jangan salah paham, bergabung di komunitas itu banyak manfaat positif walaupun ada sisi negatifnya juga.

Untuk saat ini saya sendiri lebih suka untuk bersolo karir dulu, bersepeda sendiri dulu, minimal bike to work-lah. Bukan berarti saya tidak suka komunitas, barangkali belum saatnya.