Aceh

Perhatikanlah….!

Ada kalanya, kita harus mulai berfikir untuk orang lain, menolong orang lain, dan keluar dari zona nyaman kemapanan.

Ada kalanya, kita harus melihat keluar, periksa sekeliling, lihat tetangga, siapa tahu mereka belum makan, mungkin mereka sedang dalam masalah, mereka lapar dan dalam ketiadaan, namun malu meminta.

Siapa tahu, dalam gelak tawa yang besar dalam keramain, ada kesepian yang mendera tatkala sendiri.

Hiruk pikuk lini masa, berita dan televisi, hanya sebagai ilusi untuk melupakan masalah yang ada.

Tengoklah sekitar, lihatlah sekeliling, bantu, beri meraka makan, mudahkan urusan mereka, agar Allah mudahkan urusanmu kelak di hari akhir.

Aceh, 22 Juni 2020.

Bumi Manusia dan Inferioritas Kompleks

Seorang kawan bercerita tentang bagaimana jijiknya dia setelah buku Pram yang berjudul ‘Bumi Manusia’, bagaimana tidak, rendahnya pribumi di mata penjajah, seolah membuatnya tidak kuat dan menjijikkan.

Saya belum membaca satupun dari tetralogi Buru ini, benar benar membuat saya penasaran.

Kemudian seorang kawan berbagi sebuah film bajakan yang diangkat dari buku dan pengarang terkanal, Bumi Manusia, buku yang pernah kawan saya jijik membacanya, padahal faktanya, dia berhasil khatam.

Jelas saja ini semakin membuat saya penasaran untuk melihatnya. Dengan durasi 3 jam, film ini benar-benar menguras emosi dan bagaimana mental infioritas pribumi kadang begitu kentara dilecehkan.

Saya bisa memahami kenapa teman saya tadi merasa jijik membaca novel Bumi Manusia tadi, sebagai seorang Indonesia asli, wajar jika dia terluka melihat bangsanya dibuat seperti itu.

Rasa-rasanya, tak ada satupun manusia yang berhak menguasai manusia lain, lebih baik mati berkalang tanah mempertahankan harga diri dari pada harus tunduk pada penjajah.

Pelajaran lain yang saya pelajari dari meilahat film ini adalah pentingnya belajar dan menuntut ilmu. Pengetahuan menjadikan seseorang menjadi lebih beradab, namun ilmu yang tinggi tidak menjadi jaminan akan beradabnya sebuah kaum.

Aceh, 13 Juni 2020.

Curhat Colongan

Entah mengapa, saya selalu merasa marah dan geram kalau sekiranya ayat-ayat Allah digunakan tidak pada tempatnya, selemah-lemahnya iman adalah mendoakan.

Silahkan jualan produk atau apalah, namun ketikan menggunakan agama dan ayat-ayat Al-quran sebagai pemanis dalam marketing, menurut saya itu sama sekali tidak benar dan terkesan melecehkan.

Perasaan ini muncul karena kejadian di tempat saya menulis sekarang. Tempat saya biasa minum kopi sambil mengerjakan tugas-tugas kantor.

Jualan sah-sah saja, tapi ketika firma Allah digunakan sebagai pemanis, itu sudah tidak pantas dan keren lagi.

Aceh, 15 Januari 2020.