Hidup…

Dalam hidup, seseorang memerlukan sesuatu untuk dicari, manusia perlu tujuan hidup, mereka perlu satu tujuan yang akan selalu menjadi gairah mereka dalam bekerja. Sesuatu yang membuat mereka tetap bergerak pada saat orang lain berhenti, sesuatu yang membuat mereka terus berbuat pada saat orang lain tidak lagi melihat harapan dalam perbuatan mereka, mereka mengerjakan sesuatu yang mereka yakini kebenarannya. Sesuatu yang mereka percayai keberadaannya.

Manusia perlu berbuat, mereka perlu menulis sendiri sejarah mereka, mereka harus dan wajib untuk mengisi lembaran-lembaran sejarah mereka sendiri. Mereka harus berpartisipasi dan berkontribusi.

Mereka tidak bisa menutup diri dari yang lain. Mereka tidak boleh mati di tempat-tempat sepi, mereka tidak boleh sekedar binasa di sudut-sudut pustaka, mereka tidak boleh mati kaku di dalam tempat-tempat eksperimen mereka, karena orang lain butuh kontribusi mereka, karena kehidupan sebenarnya ada di luar sana.

Kehidupan sebenarnya ada di jalanan. Ada di setiap belokan jalan yang mulai sepi di saat malam mulai turun, kehidupan sebenarnya ada di perempatan jalan, ada di bawah langit malam dan kadang dikawani cahaya rembulan, kadang pula ada di bawah-bawah jembatan yang tidak pernah sama sekali manusia pikirkan.

Hidup sebenarnya ada di luar.

Di luar sana, ada banyak hal yang perlu manusia pikirkan jalan keluarnya. Kita manusia tidak sedang baik-baik saja. Kita sedang dalam bencana besar. Kita manusia tidak sedang baik-baik saja.

Manusia hidup dalam dua titik ekstrim paradoks. Dan kita manusia harus sadar akan hal ini, bahwa di tempat kita tidak sedang baik-baik saja. Boleh jadi kita manusia sedang baik-baik saja, tapi tidak dengan mereka yang bersebelahan dengan kita manusia.

Ada banyak masalah di sana yang kita manusia tidak ketahui, karena kita manusia kadang terlau egois mengejar kepentingan pribadi tanpa ingin peduli dengan keadaan sekitar. Kita manusia kurang begitu tertarik dengan urusan manusia-manusia lain, kita manusia lebih tertarik dengan tujuan-tujuan hidup, target-target hidup dan hal-hal lainnya. Kita manusia lebih sibuk di meja makan, kita manusia lebih sering berkomentar tentang berita kelaparan yang menimpa manusia lain, kita terlalu banyak bicara di ruang tamu, dan di tempat-tempat diskusi digelar, kita manusia mengobral teori dan data, tapi berhenti pada sebatas retorika belaka.

Kita manusia tidak hidup sendiri, karena kehidupan sebenar ada di luar, karena kehidupan itu sendiri sebenarnya adalah ketika kita hidup bukan untuk diri kita manusia sendiri, tapi kita hidup untuk mereka manusia yang lain.

Advertisements

2 comments

  1. Right! Right! antipati sangat-sangat tidak menyelesaikan masalah. Paling tidak kita telah mengambil peran melakukan sesuatu walaupun itu hal kecil sekalipun. karena tidak ada kebaikan yang sia-sia. 😀
    (waah, ternyata ibal rajin kali update-nya ^^)

    1. Antipati apalagi apatis seakan seperti lari kenyataan dengan membangun blok kenyamanan sendiri, membangun dunia sendiri tanpa mau melihat ke sekitar. Ah.. sebuah pekerjaan yang sia-sia….

      Gak terlalu rajin juga, kadang kadang saja kalau sedang tidak malas 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s