Nasehat untuk Diri

Beberapa malam yang lalu (sabtu,07/07/2012) saya duduk berdiskusi dengan beberapa orang teman yang kebetulan memiliki kesamaan hobi. Biasanya, pembicaraan akan sangat beragam tergantung dari topik yang sedang menarik atau yang sedang hangat-hangatnya terjadi. Tak jarang pula, kadang percakapan membahas juga tentang buku baru.

Yang menarik pada diskusi berapa malam lalu adalah tentang bagaimana seharusnya mengkritik atau menasehati orang lain.

Cerita begini, katakan dalam satu majelis ada lima atau beberapa orang lebih, sambil serius bicara dan diskusi, lalu tiba-tiba salah seorang mengkritisi salah seorang teman dalam majelis tersebut dengan terbuka, tanpa memperhatikan keadaan disekitar dan keadaan yang sedang dikritik.

Yang menarik adalah apa yang saya pernah dengar, bahwasanya, secara psikologis, manusia cenderung akan membela diri apabila dalam kondisi terpojokkan, manusia akan melakukan apa pun untuk membela diri mereka, malakukan segala daya dan upaya untuk bertahan, biasa disebut defense mechanism.

Pada titik tertentu, ketika pertahanan sudah mulai terbangun, biasanya manusia cenderung akan balik menyerang. Kadang kala proses serangn balik ini terjadi sekaligus dengan bertahan.

Kurang lebih seperti ini, seorang yang dikritik, cenderung akan membantah apa yang sedang dikritik, bahkan akan membela diri sambil sesekali menyerang balik orang yang mengkritik.

Nah yang menarik dari diskusi beberapa malamΒ  lalu adalah ilmu yang saya dapat tentang bagaimana seharusnya dalam mengkritisi atau menasehati seseorang atau kelompok tertentu.

1. Mengkritik atau menasehati secara personal.

Datangi mereka yang salah atau belum paham, bicara dengan lemah lemut, diskusi dengan kepala dingin, bicara empat mata, bicara secara personal, diskusi dari hati ke hati dengan mereka.

Kenapa hal ini penting? Biasanya, kalau seseorang dikritisi atau dinasehati secara frontal di depan umum, orang yang dikritisi akan merasa seperti sedang dipermalukan, dilecehkan, direndahkan. Biasanya, mereka akan mencari seribu alasan dan cara untuk memertahankan diri atau malah menyerang kritik dengan pedas. Alih-alih berubah, yang terjadi malah sebaliknya, mereka akan menjauh. Ini pelajaran yang saya dapat dari kawan-kawan diskusi beberapa malam lalu.

2. Sebelum menasehati orang, bercerminlah..!

Yang ini juga tidak kalah penting, karena setiap orang pernah salah, biasanya orang suka semena-mena terhadap mereka yang berbuat salah, entah itu menghakimi secara keji atau malah mencaci secara kejam, sudah semestinya setiap orang bijaksana dalam melihat orang yang melakukan kesalahan. Bisa jadi mereka lupa, khilaf, atau banyak alasan lain yang kita tidak pernah paham atau ketahui.

Tentang kesalahan, itu sudah menjadi tabiatnya manusia. Sebaik-baik yang beruat kesalahan adalah yang kembali dan tidak mengulanginya lagi.

Kawan, tiada maksud saya menceramahi siapa pun, pemilik blog ini sendiri juga sangat jauh dari bersih hati dan amalnya, sangat banyak kesalahan dari diri penulis sendiri. Sejatinya tulisan ini adalah untuk diri sendiri, sama sekali tidak ada maksud untuk menggurui atau menasehati, jauh kapasitas penulis dari pada itu.

Demikianlah sidang pembaca blog yang terhormat, maksud hati menulis tentang ini adalah sebagai pengingat diri, sekaligus sebagai catatan jikalau suatu saat diri lupa.

Advertisements

6 thoughts on “Nasehat untuk Diri

  1. yeah.., menasehati dengan cara yang baik, di situasi yang baik dengan bahasa yang baik.

    meski kadang dalam situasi tertentu itu sulit diterapkan ketika hal tersebut berbenturan dengan hal yang dinamakan “ego” dan “harga diri”.
    itulah mungkin kenapa kita, manusia ,mesti selalu belajar… πŸ™‚

    • Ego diri memang musuh yang paling sulit dilawan πŸ˜€ Lama sekali saya tidak bermain di tempat saya sendiri, sampai terbengkalai begini ….

  2. Mengkritik secara frontal memang tdk baik krn bisa menghancurkan kepribadian atau karakter seseorang. Ada kalanya jika seseorg dikritik ttng dirinya di depan umum dia malah akan “sengaja” mengulang kembali yg telah dikritik tersebut.
    Kalau saya pribadi lebih baik menjadi pendengar saja, mengkritik org kalo salah2 bsa merusak hubungan. apalgi mengkritik tnpa intropeksi diri dulu tu namanya cari masalah hehehe..
    πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s